Selasa, 12 Juni 2012

PERAN PENDIDIKAN KARAKTER DALAM MEWUJUDKAN MASYARAKAT MADANI


BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
Istilah karakter secara harfiah berasal dari bahasa Latin “charakter”, yang antara lain berarti: watak, tabiat, sifat-sifat kejiwaan, budi pekerti, kepribadian atau akhlak (Oxford). Sedangkan secara istilah, karakter diartikan sebagai sifat manusia pada umumnya dimana manusia mempunyai banyak sifat yang tergantung dari faktor kehidupannya sendiri. Karakter adalah sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang menjadi ciri khas seseorang atau sekelompok orang. Karakter dapat juga diartikan sama dengan akhlak dan budi pekerti, sehingga karakter bangsa identik dengan akhlak bangsa atau budi pekerti bangsa. Bangsa yang berkarakter adalah bangsa yang berakhlak dan berbudi pekerti, sebaliknya bangsa yang tidak berkarakter adalah bangsa yang tidak atau kurang berakhlak atau tidak memiliki standar norma dan perilaku yang baik.
Bila bangsa ini memiliki komitmen kuat dalam membumikan pendidikan karakter, memang sangat perlu ada reposisi dan reaktualisasi dalam penerapan pendidikan karakter bangsa ini. Kiranya tidak cukup pengambil kebijakan hanya mengandalkan pendidikan formal saja dalam melestarikan jati diri bangsanya. Praktik pendidikan formal telah banyak menyajikan tentang perilaku mulia sebagai bangsa. Persaudaraan, toleransi, santun dalam bicara, berbuat, ketakwaan, dan sebagainya. Nilai-nilai mulia yang telah diterima siswa di bangku pendidikan, setelah pulang ke rumah dan masyarakat begitu mudah dilupakan.
Kenyataannya, sajian perilaku masyarakat dan keluarga justru sangat mendominasi jiwa anak dalam perkembangannya. Rasanya sangat sulit untuk menjadikan siswa yang santun bila lingkungan anak baik keluarga dan masyarakatnya tidak santun. Menyadari betapa pentingnya pendidikan karakter, budi pekerti anak-anak bangsa sangat perlu adanya kemauan kuat dari berbagai pihak. Pendidikan karakter sangat mendominasi jiwa anak secara penuh. Peran Pendidikan karakter sangat besar dalam menanamkan nilai-nilai mulia suatu bangsa menuju masyarakat madani.
Dari permasalahan di atas maka penulis akan membahas mengenai Peran Pendidikan Karakter dalam Mewujudkan Masyarakat Madani.
B.     Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas, maka penulis akan menyajikan beberapa permasalahan terkait dengan pembahasan mengenai Peran Pendidikan Karakter dalam Membentuk Masyarakat Madani yang akan menjadi titik tolak dalam pembahasan ini. Beberapa rumusan masalah tersebut antara lain:
1.      Apa Pengertian Pendidikan Karakter?
2.      Apa Pengertian Masyarakat Madani?
3.      Bagaimana Karakteristik Masyarakat Madani?
4.      Bagaimana Peran Pendidikan Karakter dalam Mewujudkan Masyarakat Madani?
BAB II
PEMBAHASAN

A.     Pengertian Pendidikan Karakter
Pengertian Pendidikan Karakter merupakan suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME), diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil.[1]
B.     Pengertian Masyarakat Madani
Masyarakat madani adalah masyarakat yang beradab, menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, yang maju dalam penguasaan ilmu pengetahuan, dan teknologi.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, masyarakat madani adalah masyarakat yang menjunjung tinggi nilai, norma, hukum yang ditopang oleh penguasaan iman, ilmu, dan teknologi yang berperadaban.[2]
Menurut Prof. Naquib al-Attas, seorang ahli sejarah dan peradaban Islam dari Malaysia, ia mengemukakan definisi masyarakat madani merupakan konsep masyarakat ideal yang mengandung dua komponen besar yakni masyarakat kota dan masyarakat yang beradab.[3]
Allah SWT memberikan gambaran dari masyarakat madani dengan firman-Nya dalam Q.S. Saba’ ayat 15 yang artinya:
Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan yang Maha Pengampun”.[4]
C.     Ciri-ciri Masyarakat Madani
Bangsa Indonesia mengenal istilah masyarakat madani sebagai masyarakat sipil yang demokrasi dan agamis / religius. Dalam kaitannya pembentukan masyarakat madani di Indonesia, maka warga negara Indonesia perlu dikembangkan untuk menjadi warga negara yang cerdas, demokratis, dan religius dengan bercirikan imtaq, kritis argumentatif, dan kreatif, berfikir dan berperasaan secara jernih sesuai dengan aturan, menerima semangat Bhineka Tunggal Ika, berorganisasi secara sadar dan bertanggung jawab, memilih calon pemimpin secara jujur-adil, menyikapi media massa secara kritis dan objektif, berani tampil dan kemasyarakatan secara profesionalis, memiliki pengertian kesejagatan, memahami daerah Indonesia saat ini, serta mengenal cita-cita Indonesia di masa mendatang.[5]
Karaketeristik masyarakat madani terbagi dalam dua kategori :
1. Karakteristik Primer
a.  Masyarakat Intelektual.
b.  Masyarakat Spiritual.
c.   Masyarakat Moral.
d.   Masyarakat Hukum.
e.   Masyarakat Berperadaban.
Kelima karakteristik tersebut selanjutnya dapat disederhanakan melalui pendekatan relijius, dengan istilah masyarakat religius. Yaitu masyarakat yang merefleksikan tatanan dan sistem hidup (way of life) yang integral sebagaimana yang terdapat dalam ajaran Islam.
2. Karakteristik Sekunder
a. Masyarakat Demokratis.
b. Masyarakat Moderat. Al-Qur'an menyebut masyarakat ini dengan “ummatan wasatho” (ummat yang tengah-tengah)
c. Masyarakat Mandiri (independent) dan Bertanggungjawab (responsible).
d. Masyarakat Profesional.
e. Masyarakat Reformis.
Dari beberapa ciri tersebut, kiranya dapat dikatakan bahwa masyarakat madani adalah sebuah masyarakat demokratis dimana para anggotanya menyadari akan hak-hak dan kewajibannya dalam menyuarakan pendapat dan mewujudkan kepentingan-kepentingannya, dimana pemerintahannya memberikan peluang yang seluas-luasnya bagi kreatifitas warga negara untuk mewujudkan program-program pembangunan di wilayahnya.
D.    Peran Pendidikan Karakter dalam Mewujudkan Masyarakat Madani
Setiap orang tentu memiliki rasa kebangsaan dan memiliki wawasan kebangsaan dalam perasaan atau pikiran, paling tidak di dalam hati nuraninya. Dalam realitas, rasa kebangsaan itu seperti sesuatu yang dapat dirasakan tetapi sulit dipahami. Namun ada getaran atau resonansi dan pikiran ketika rasa kebangsaan tersentuh. Rasa kebangsaan bisa timbul dan terpendam secara berbeda dari orang per orang dengan naluri kejuangannya masing-masing, tetapi bisa juga timbul dalam kelompok.
Rasa kebangsaan adalah kesadaran berbangsa, yakni rasa yang lahir secara alamiah karena adanya kebersamaan sosial yang tumbuh dari kebudayaan, sejarah, dan aspirasi perjuangan masa lampau, serta kebersamaan dalam menghadapi tantangan sejarah masa kini. Dinamisasi rasa kebangsaan ini dalam mencapai cita-cita bangsa berkembang menjadi wawasan kebangsaan, yakni pikiran-pikiran yang bersifat nasional dimana suatu bangsa memiliki cita-cita kehidupan dan tujuan nasional yang jelas.
Adapun ciri-ciri bangsa yang karakter menurut Soekarno adalah sebagai berikut:
1.      Pertama, Kemandirian (self-reliance), atau menurut istilah Presiden Soekarno adalah “Berdikari” (berdiri di atas kaki sendiri). Dalam konteks aktual saat ini, kemandirian diharapkan terwujud dalam percaya akan kemampuan manusia dan penyelenggaraan Republik Indonesia dalam mengatasi krisis-krisis yang dihadapinya.
2.      Kedua, Demokrasi (democracy), atau kedaulatan rakyat sebagai ganti sistem kolonialis. Masyarakat demokratis yang ingin dicapai adalah sebagai  pengganti dari masyarakat warisan yang feodalistik. Masyarakat di mana setiap anggota ikut serta dalam proses politik dan pengambilan keputusan yang berkaitan langsung dengan kepentingannya untuk mencapai kesejahteraan dan kemakmuran.
3.      Ketiga, Persatuan Nasional (national unity). Dalam konteks aktual dewasa ini diwujudkan dengan kebutuhan untuk melakukan rekonsiliasi nasional antar berbagai kelompok yang pernah bertikai ataupun terhadap kelompok yang telah mengalami diskriminasi selama ini.
4.      Keempat, Martabat Internasional (bargaining positions).  Indonesia tidak perlu mengorbankan martabat dan kedaulatannya sebagai bangsa yang merdeka untuk mendapatkan prestise, pengakuan dan wibawa di dunia internasional. Sikap menentang hegemoni suatu bangsa atas bangsa lainnya adalah sikap yang mendasari ide dasar “nation and character building.” Bung Karno menentang segala bentuk “penghisapan suatu bangsa terhadap bangsa lain,” serta menentang segala bentuk “neokolonialisme” dan “neoimperialisme.” Indonesia harus berani mengatakan “tidak” terhadap tekanan-tekanan politik yang tidak sesuai dengan “kepentingan nasional” dan “rasa keadilan” sebagai bangsa merdeka.[6]
Pendidikan karakter seharusnya berangkat dari konsep dasar manusia yakni fitrah. Setiap anak dilahirkan menurut fitrahnya, yaitu memiliki akal, nafsu (jasad), hati dan ruh. Konsep inilah yang sekarang lantas dikembangkan menjadi konsep multiple intelligence. Dalam Islam terdapat beberapa istilah yang sangat tepat digunakan sebagai pendekatan pembelajaran. Konsep-konsep itu antara lain: tilâwah, ta’lîm’, tarbiyah, ta’dîb, tazkiyah dan tadlrîb. Tilâwah menyangkut kemampuan membaca; ta’lim terkait dengan pengembangan kecerdasan intelektual (intellectual quotient);  tarbiyah menyangkut kepedulian dan kasih sayang secara naluriah yang didalamnya ada asah, asih dan asuh; ta’dîb terkait dengan pengembangan kecerdasan emosional (emotional quotient); tazkiyah terkait dengan pengembangan kecerdasan spiritual (spiritual quotient); dan tadlrib terkait dengan kecerdasan fisik atau keterampilan (physical quotient atau adversity quotient).[7]
Pendidikan karakter yang berhasil akan membuahkan sikap mental yang cerdas dan penuh tanggung jawab. Antara lain :
1.      Mahasiswa yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME dan menghayati nilai–nilai falsafah bangsa.
2.      Berbudi pekerti luhur dan berdisiplin dalam bermasyarakat berbangsa dan
bernegara.
3.      Rasional, dinamis, dan sadar akan hak dan kewajiban sebagai WNI.
4.      Bersifat professional yang dijiwai oleh kesadaran bela Negara.
5.      Aktif memanfaatkan IPTEK serta seni untuk kepentingan kemanusiaan, bangsa, dan Negara.
Apabila ingin membangun suatu tatanan masyarakat yang demokratis maka setiap warga negara haruslah melalui karakter atau jiwa yang demokratis pula.
Sebagai warga negara yang demokratis, hendaknya memiliki rasa hormat terhadap sesama warga negara terutama dalam konteks adanya Pluralitas masyarakat Indonesia yang terdiri dari berbagai etnis, suku, ras, keyakinan, agama, dan ideologi politik. Selain itu, sebagai warga negara yang demokrat, seorang warga negara juga dituntut untuk turut bertanggungjawab menjaga keharmonisan hubungan antar etnis serta keteraturan dan ketertiban negara yang berdiri diatas pluralitas tersebut. Setiap warga negara yang demokrat harus bersikap kritis terhadap kenyataan membuka diskusi dan dialog, bersikap terbuka, rasional, adil dan jujur.[8]
Dari berbagai penjelasan di atas, untuk menjadi bangsa yang bermartabat dan berkeadaban diperlukan karakter bangsa yang didasari iman, taqwa dan akhlak budi pekerti yang mulia.

BAB III
PENUTUP

A.     Kesimpulan
Pendidikan Karakter merupakan suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME), diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil.
Masyarakat madani adalah masyarakat yang menjunjung tinggi nilai, norma, hukum yang ditopang oleh penguasaan iman, ilmu, dan teknologi yang berperadaban.
Untuk menjadi bangsa yang bermartabat dan berkeadaban diperlukan karakter bangsa yang didasari iman, taqwa dan akhlak budi pekerti yang mulia.
B.     Saran
Demikianlah karya yang dapat disajikan penulis. Tentunya penulis sadar bahwa karya ini masih sangat jauh dari sempurna. Oleh sebab itu, kritik, opini dan saran selalu penulis harapkan, agar semakin melengkapi materi karya ini. Semoga karya ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi para pembaca pada umumnya.


DAFTAR PUSTAKA

Dede Rosyada, dkk, Pendidikan Kewarganegaraan: Demokrasi, Hak Asasi Manusia dan Masyarakat Madani, ICCE UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, 2003.
http://fixguy.wordpress.com/makalah-masyarakat-madani/ , diakses pada tanggal 24 Nopember 2011.






[3] Dede Rosyada, dkk, Pendidikan Kewarganegaraan: Demokrasi, Hak Asasi Manusia dan Masyarakat Madani, ICCE UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, 2003, hlm. 241.
[4] http://fixguy.wordpress.com/makalah-masyarakat-madani/ , diakses pada tanggal 24 Nopember 2011.

[5] Ibid.
[7] Ibid.
[8] Ibid.

1 komentar: