BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Istilah
karakter secara harfiah berasal dari bahasa Latin “charakter”, yang antara lain berarti: watak, tabiat, sifat-sifat
kejiwaan, budi pekerti, kepribadian atau akhlak (Oxford). Sedangkan secara istilah, karakter diartikan sebagai sifat
manusia pada umumnya dimana manusia mempunyai banyak sifat yang tergantung dari
faktor kehidupannya sendiri. Karakter adalah sifat kejiwaan, akhlak atau
budi pekerti yang menjadi ciri khas seseorang atau sekelompok orang. Karakter dapat juga diartikan sama dengan
akhlak dan budi pekerti, sehingga karakter bangsa identik dengan akhlak bangsa
atau budi pekerti bangsa. Bangsa yang berkarakter adalah bangsa yang berakhlak
dan berbudi pekerti, sebaliknya bangsa yang tidak berkarakter adalah bangsa
yang tidak atau kurang berakhlak atau tidak memiliki standar norma dan perilaku
yang baik.
Bila bangsa
ini memiliki komitmen kuat dalam membumikan pendidikan karakter, memang sangat
perlu ada reposisi dan reaktualisasi dalam penerapan pendidikan karakter bangsa
ini. Kiranya tidak cukup pengambil kebijakan hanya mengandalkan pendidikan
formal saja dalam melestarikan jati diri bangsanya. Praktik pendidikan formal
telah banyak menyajikan tentang perilaku mulia sebagai bangsa. Persaudaraan,
toleransi, santun dalam bicara, berbuat, ketakwaan, dan sebagainya. Nilai-nilai
mulia yang telah diterima siswa di bangku pendidikan, setelah pulang ke rumah
dan masyarakat begitu mudah dilupakan.
Kenyataannya,
sajian perilaku masyarakat dan keluarga justru sangat mendominasi jiwa anak
dalam perkembangannya. Rasanya sangat sulit untuk menjadikan siswa yang santun
bila lingkungan anak baik keluarga dan masyarakatnya tidak santun. Menyadari
betapa pentingnya pendidikan karakter, budi pekerti anak-anak bangsa sangat
perlu adanya kemauan kuat dari berbagai pihak. Pendidikan karakter sangat
mendominasi jiwa anak secara penuh. Peran Pendidikan karakter sangat besar
dalam menanamkan nilai-nilai mulia suatu bangsa menuju masyarakat madani.
Dari permasalahan
di atas maka penulis akan membahas mengenai Peran Pendidikan Karakter dalam
Mewujudkan Masyarakat Madani.
B.
Rumusan Masalah
Dari latar
belakang di atas, maka penulis akan menyajikan beberapa permasalahan terkait
dengan pembahasan mengenai Peran Pendidikan Karakter dalam Membentuk Masyarakat
Madani yang akan menjadi titik tolak dalam pembahasan ini. Beberapa rumusan
masalah tersebut antara lain:
1. Apa Pengertian Pendidikan Karakter?
2. Apa Pengertian Masyarakat Madani?
3. Bagaimana Karakteristik Masyarakat Madani?
4. Bagaimana Peran Pendidikan Karakter dalam
Mewujudkan Masyarakat Madani?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Pendidikan Karakter
Pengertian Pendidikan Karakter
merupakan suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang
meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk
melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME),
diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia
insan kamil.[1]
B.
Pengertian Masyarakat Madani
Masyarakat madani adalah masyarakat yang beradab,
menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, yang maju dalam penguasaan ilmu
pengetahuan, dan teknologi.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia,
masyarakat madani adalah masyarakat yang menjunjung tinggi nilai, norma, hukum
yang ditopang oleh penguasaan iman, ilmu, dan teknologi yang berperadaban.[2]
Menurut
Prof. Naquib al-Attas, seorang ahli sejarah dan peradaban Islam dari Malaysia,
ia mengemukakan definisi masyarakat madani merupakan konsep masyarakat ideal
yang mengandung dua komponen besar yakni masyarakat kota dan masyarakat yang
beradab.[3]
Allah SWT
memberikan gambaran dari masyarakat madani dengan firman-Nya dalam Q.S. Saba’
ayat 15 yang artinya:
“Sesungguhnya
bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di
tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah
kiri. (kepada mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rezki yang
(dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah
negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan yang Maha Pengampun”.[4]
C. Ciri-ciri Masyarakat Madani
Bangsa Indonesia
mengenal istilah masyarakat madani sebagai masyarakat sipil yang demokrasi dan
agamis / religius. Dalam kaitannya pembentukan masyarakat madani di Indonesia,
maka warga negara Indonesia perlu dikembangkan untuk menjadi warga negara yang
cerdas, demokratis, dan religius dengan bercirikan imtaq, kritis argumentatif,
dan kreatif, berfikir dan berperasaan secara jernih sesuai dengan aturan,
menerima semangat Bhineka Tunggal Ika, berorganisasi secara sadar dan
bertanggung jawab, memilih calon pemimpin secara jujur-adil, menyikapi media
massa secara kritis dan objektif, berani tampil dan kemasyarakatan secara
profesionalis, memiliki pengertian kesejagatan, memahami daerah Indonesia saat
ini, serta mengenal cita-cita Indonesia di masa mendatang.[5]
Karaketeristik masyarakat madani terbagi dalam dua
kategori :
1. Karakteristik Primer
a.
Masyarakat Intelektual.
b.
Masyarakat Spiritual.
c.
Masyarakat Moral.
d.
Masyarakat Hukum.
e.
Masyarakat Berperadaban.
Kelima karakteristik tersebut selanjutnya dapat
disederhanakan melalui pendekatan relijius, dengan istilah masyarakat religius.
Yaitu masyarakat yang merefleksikan tatanan dan sistem hidup (way of
life) yang integral sebagaimana yang
terdapat dalam ajaran Islam.
2.
Karakteristik Sekunder
a. Masyarakat Demokratis.
b. Masyarakat Moderat. Al-Qur'an menyebut masyarakat
ini dengan “ummatan wasatho” (ummat yang tengah-tengah)
c. Masyarakat Mandiri (independent) dan Bertanggungjawab
(responsible).
d. Masyarakat Profesional.
e. Masyarakat Reformis.
Dari
beberapa ciri tersebut, kiranya dapat dikatakan bahwa masyarakat madani adalah
sebuah masyarakat demokratis dimana para anggotanya menyadari akan hak-hak dan
kewajibannya dalam menyuarakan pendapat dan mewujudkan
kepentingan-kepentingannya, dimana pemerintahannya memberikan peluang yang
seluas-luasnya bagi kreatifitas warga negara untuk mewujudkan program-program
pembangunan di wilayahnya.
D.
Peran Pendidikan
Karakter dalam Mewujudkan Masyarakat Madani
Setiap orang tentu memiliki rasa kebangsaan dan
memiliki wawasan kebangsaan dalam perasaan atau pikiran, paling tidak di dalam
hati nuraninya. Dalam realitas, rasa kebangsaan itu seperti sesuatu yang dapat
dirasakan tetapi sulit dipahami. Namun ada getaran atau resonansi dan pikiran
ketika rasa kebangsaan tersentuh. Rasa kebangsaan bisa timbul dan terpendam
secara berbeda dari orang per orang dengan naluri kejuangannya masing-masing,
tetapi bisa juga timbul dalam kelompok.
Rasa kebangsaan adalah kesadaran berbangsa, yakni rasa
yang lahir secara alamiah karena adanya kebersamaan sosial yang tumbuh dari
kebudayaan, sejarah, dan aspirasi perjuangan masa lampau, serta kebersamaan
dalam menghadapi tantangan sejarah masa kini. Dinamisasi rasa kebangsaan ini
dalam mencapai cita-cita bangsa berkembang menjadi wawasan kebangsaan, yakni
pikiran-pikiran yang bersifat nasional dimana suatu bangsa memiliki cita-cita
kehidupan dan tujuan nasional yang jelas.
Adapun ciri-ciri bangsa yang karakter menurut Soekarno
adalah sebagai berikut:
1. Pertama,
Kemandirian (self-reliance), atau menurut istilah Presiden Soekarno
adalah “Berdikari” (berdiri di atas kaki sendiri). Dalam konteks aktual saat
ini, kemandirian diharapkan terwujud dalam percaya akan kemampuan manusia dan
penyelenggaraan Republik Indonesia
dalam mengatasi krisis-krisis yang dihadapinya.
2. Kedua,
Demokrasi (democracy), atau kedaulatan rakyat sebagai ganti sistem
kolonialis. Masyarakat demokratis yang ingin dicapai adalah sebagai
pengganti dari masyarakat warisan yang feodalistik. Masyarakat di mana setiap
anggota ikut serta dalam proses politik dan pengambilan keputusan yang
berkaitan langsung dengan kepentingannya untuk mencapai kesejahteraan dan
kemakmuran.
3. Ketiga,
Persatuan Nasional (national unity). Dalam konteks aktual dewasa ini
diwujudkan dengan kebutuhan untuk melakukan rekonsiliasi nasional antar
berbagai kelompok yang pernah bertikai ataupun terhadap kelompok yang telah
mengalami diskriminasi selama ini.
4. Keempat,
Martabat Internasional (bargaining positions). Indonesia tidak
perlu mengorbankan martabat dan kedaulatannya sebagai bangsa yang merdeka untuk
mendapatkan prestise, pengakuan dan wibawa di dunia internasional. Sikap
menentang hegemoni suatu bangsa atas bangsa lainnya adalah sikap yang mendasari
ide dasar “nation and character
building.” Bung Karno menentang
segala bentuk “penghisapan suatu bangsa terhadap bangsa lain,” serta menentang
segala bentuk “neokolonialisme” dan “neoimperialisme.” Indonesia harus berani
mengatakan “tidak” terhadap tekanan-tekanan politik yang tidak sesuai dengan
“kepentingan nasional” dan “rasa keadilan” sebagai bangsa merdeka.[6]
Pendidikan karakter seharusnya berangkat dari konsep
dasar manusia yakni fitrah. Setiap anak dilahirkan menurut fitrahnya, yaitu
memiliki akal, nafsu (jasad), hati dan ruh. Konsep inilah yang
sekarang lantas dikembangkan menjadi konsep multiple intelligence.
Dalam Islam terdapat beberapa istilah yang sangat tepat digunakan sebagai
pendekatan pembelajaran. Konsep-konsep itu antara lain: tilâwah, ta’lîm’,
tarbiyah, ta’dîb, tazkiyah dan tadlrîb. Tilâwah
menyangkut kemampuan membaca; ta’lim terkait dengan pengembangan
kecerdasan intelektual (intellectual quotient); tarbiyah
menyangkut kepedulian dan kasih sayang secara naluriah yang didalamnya ada
asah, asih dan asuh; ta’dîb terkait dengan pengembangan kecerdasan
emosional (emotional quotient); tazkiyah terkait dengan
pengembangan kecerdasan spiritual (spiritual quotient); dan tadlrib
terkait dengan kecerdasan fisik atau keterampilan (physical quotient atau
adversity quotient).[7]
Pendidikan karakter yang berhasil akan membuahkan
sikap mental yang cerdas dan penuh tanggung jawab. Antara lain :
1.
Mahasiswa yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME
dan menghayati nilai–nilai falsafah bangsa.
2.
Berbudi pekerti luhur dan berdisiplin dalam bermasyarakat
berbangsa dan
bernegara.
bernegara.
3.
Rasional, dinamis, dan sadar akan hak dan kewajiban
sebagai WNI.
4.
Bersifat professional yang dijiwai oleh kesadaran bela
Negara.
5.
Aktif memanfaatkan IPTEK serta seni untuk kepentingan kemanusiaan,
bangsa, dan Negara.
Apabila ingin membangun suatu tatanan masyarakat yang
demokratis maka setiap warga negara haruslah melalui karakter atau jiwa yang
demokratis pula.
Sebagai warga negara yang demokratis, hendaknya
memiliki rasa hormat terhadap sesama warga negara terutama dalam konteks adanya
Pluralitas masyarakat Indonesia
yang terdiri dari berbagai etnis, suku, ras, keyakinan, agama, dan ideologi
politik. Selain itu, sebagai warga negara yang demokrat, seorang warga negara
juga dituntut untuk turut bertanggungjawab menjaga keharmonisan hubungan antar
etnis serta keteraturan dan ketertiban negara yang berdiri diatas pluralitas
tersebut. Setiap warga negara yang demokrat harus bersikap kritis terhadap
kenyataan membuka diskusi dan dialog, bersikap terbuka, rasional, adil dan
jujur.[8]
Dari berbagai
penjelasan di atas, untuk menjadi bangsa yang bermartabat dan
berkeadaban diperlukan karakter bangsa yang didasari iman, taqwa dan akhlak
budi pekerti yang mulia.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Pendidikan Karakter merupakan suatu sistem
penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen
pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan
nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME), diri sendiri, sesama,
lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil.
Masyarakat madani adalah masyarakat yang menjunjung
tinggi nilai, norma, hukum yang ditopang oleh penguasaan iman, ilmu, dan
teknologi yang berperadaban.
Untuk
menjadi bangsa yang bermartabat dan berkeadaban diperlukan karakter bangsa yang
didasari iman, taqwa dan akhlak budi pekerti yang mulia.
B.
Saran
Demikianlah karya
yang dapat disajikan penulis. Tentunya penulis sadar bahwa karya ini
masih sangat jauh dari sempurna. Oleh sebab itu, kritik, opini dan saran selalu
penulis harapkan, agar semakin melengkapi materi karya ini. Semoga karya ini dapat
bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi para pembaca pada umumnya.
DAFTAR PUSTAKA
Dede Rosyada, dkk, Pendidikan Kewarganegaraan: Demokrasi, Hak
Asasi Manusia dan Masyarakat Madani, ICCE UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, 2003.
http://fixguy.wordpress.com/makalah-masyarakat-madani/
, diakses pada tanggal 24 Nopember 2011.
http://kamusbahasaindonesia.org/MASYARAKAT%20MADANI#ixzz1egB7Vf5A,
diakses tanggal 25 Nopember 2011.
http://tobroni.staff.umm.ac.id/2010/11/24/pendidikan-karakter-dalam-perspektif-islam-pendahulan/,
diakses tanggal 25 Nopember 2011.
http://www.yudinet.com/pendidikan/pengertian-makna-pendidikan-karakter/,
diakses tanggal 26 Nopember 2011.
[1] http://www.yudinet.com/pendidikan/pengertian-makna-pendidikan-karakter/,
diakses tanggal 26 Nopember 2011.
[2] http://kamusbahasaindonesia.org/MASYARAKAT%20MADANI#ixzz1egB7Vf5A,
diakses tanggal 25 Nopember 2011.
[3]
Dede Rosyada, dkk, Pendidikan
Kewarganegaraan: Demokrasi, Hak Asasi Manusia dan Masyarakat Madani, ICCE
UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta,
2003, hlm. 241.
[5] Ibid.
[6] http://tobroni.staff.umm.ac.id/2010/11/24/pendidikan-karakter-dalam-perspektif-islam-pendahulan/,
diakses tanggal 25 Nopember 2011.
[7] Ibid.
[8] Ibid.